Tenaga Kerja Lokal di Industri Telekomunikasi Kita
May 12, 2009 # 4:50 pm # ICT World # No CommentSeiring dengan berlangsungnya tender spektrum BWA di pita 2,3 GHz yang dilaksanakan oleh Pemerintah saat ini, Industri Dalam Negeri (IDN) menjadi perhatian dan sorotan bersama karena adanya persyaratan untuk penggunaan perangkat produksi IDN. Semangat penggunaan produksi IDN ini selain dalam rangka mengurangi penggunaan devisa untuk belanja perangkat juga ditujukan untuk memajukan industri manufaktur telekomunikasi kita yang dianggap telah mati suri. Dengan mewajibkan penggunaan perangkat IDN diharapkan IDN tersebut akan tumbuh dan berkembang dan dengan sendirinya akan menciptakan lapangan pekerjaan. Penciptaan lapangan kerja memang menjadi agenda nasional Pemerintah, karenanya Pemerintah akan sangat mendukung upaya – upaya dalam rangka penciptaan lapangan kerja baru.
Namun yang perlu juga diperhatikan, industri manufaktur telekomunikasi adalah industri padat modal dan padat teknologi. Apakah kebijakan mengembangkan industri manufaktur telekomunikasi telah dikaji secara mendalam terkait dengan berapa besar jumlah tenaga kerja yang bisa diserap? Coba saja kita liat jumlah tenaga kerja lokal yang terlibat dalam pengembangan WiMAX versi Indonesia di dua perusahaan Hariff dan TRG. Katakan saat ini masing – masing di dua perusahaan tersebut mempekerjakan tidak lebih dari 50 orang, berarti saat ini praktis hanya 100 orang yang terlibat untuk pengembangan WiMAX versi Indonesia. Ini memang masih dalam tahap R&D, kalaupun akan dilakukan proses perakitan dan pabrikasi di Indonesia berapa banyak lagi tenaga kerja lokal yang dilibatkan? Nyatanya dengan pertimbangan cost, beberapa pekerjaan pabrikasi tetap dilakukan diluar negeri.
Disisi lain, mari kita lihat gemerlap pembangunan infrastruktur telekomunikasi oleh para operator selular kita. Besarnya belanja modal (CAPEX) yang dikeluhkan Pemerintah dalam berbagai forum dan kesempatan sebagian besar datangnya dari CAPEX para operator seluler kita. Pertanyaannya, apakah yang telah Pemerintah lakukan untuk mengembangkan IDN di sektor ini ? Walau terlambat, jika konsisten seharusnya Pemerintah tetap mengembangkan IDN untuk industri selular sebagaimana industri BWA. Kita seharusnya tidak berpuas diri dengan hadirnya berbagai produk handphone dengan brand lokal. Harusnya IDN kita bisa berbuat lebih untuk industri selular.
Kembali ke keterlibatan tenaga kerja lokal, yang memprihatinkan di industri selular saat ini adalah serangan vendor negeri tirai bambu baik di operator CDMA dan GSM yang ternyata selain membawa perangkat – perangkat yang “murah” ternyata juga diikuti dengan berdatangannya ratusan tenaga kerja asing. Jika tenaga kerja asing ini adalah tenaga ahli yang mendatangkan ilmu buat kita mungkin tidak akan menjadi masalah buat kita. Nyatanya menurut informasi dari rekan yang bekerja di vendor dari negeri tirai bambu tersebut, tenaga – tenaga asing yang datang bukanlah benar-benar tenaga ahli namun sebagian dari mereka adalah para “fresh graduate” dan ini tentunya menjadi permasalahan tersendiri buat kita. Kita ribut – ribut berbicara penciptaan lapangan kerja baru tapi kita malah membiarkan lapangan kerja kita diserobot oleh orang lain.
Apakah kita akan berdiam diri dengan kondisi dan keadaan seperti ini?
Subscribe RSS
Comment RSS








