Home » ICT World

Menaruh asa terwujudnya e-Indonesia di pedesaan lewat USO

Pemenang tender Universal Service Obligation (USO) untuk 2 blok telah diumumkan oleh Pemerintah, dan pemenangnya seperti yang telah diduga sebelumnya adalah TELKOMSEL. FKBWI bersama APJII, ABWINDO, IndoWLI dan IDTUG pada tanggal 28 Oktober 2008 yang lalu telah menyampaikan pernyataan sikapnya terkait dengan pelaksanaan tender USO ini. Kala itu kelima organisasi tersebut pada intinya sangat mendukung dilanjutkannya kembali tender program USO setelah sempat terhenti karena adanya gugatan hukum yang dilayangkan oleh ACeS, namun menyayangkan adanya pembatasan partisipasi dan penurunan spesifikasi teknis terkait implementasi desa digital jika dibandingkan dengan persyaratan sebelumnya.

Penurunan spesifikasi teknis yang dimaksud adalah penyediaan akses internet dengan minimal kecepatan 56 Kbps yang identik dengan kecepatan GPRS. Penurunan spesifikasi ini diduga disponsori oleh salah satu operator seluler yang ingin memenangkan tender USO tersebut. Dan melihat komposisi kepemilikan saham asing di beberapa operator seluler yang ada, tudingan diarahkan ke TELKOMSEL yang sangat berpotensi memenangkan tender USO ini, terlebih TELKOMSEL juga sangat agresif mensosialisasikan program “Merah Putih” nya dalam menjangkau daerah terpencil di Indonesia. Padahal dalam kenyataannya saat ini mengakses internet dengan menggunakan layanan 3G saja banyak terjadi keluhan-keluhan khususnya masalah kecepatan akses. Bayangkan bagaimana jika layanan akses internet ini hanya menggunakan GPRS yang serba terbatas sehingga dikhawatirkan akan membuat frustasi masyarakat dalam menggunakan layanan internet.

Sebagaimana yang tertuang dalam PERMEN No. 32/PER/M.KOMINFO/10/2008, program USO mengusung satu amanat untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah tertinggal, daerah terpencil, daerah perintis, daerah perbatasan serta daerah yang tidak layak secara ekonomis untuk dapat menggunakan sarana dan prasarana telekomunikasi guna menunjang kegiatan perekonomian guna meningkatkan kehidupan bangsa. Terwujudnya desa digital dengan penyediaan akses internet adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kegiatan perekonomian masyarakat dipedesaan.

Sebagaimana dikutip dari Detikinet (Rabu, 7 Januari 2009), Menteri Komunikasi dan Informatika, Mohammad Nuh, ketika menjelaskan soal tender telekomunikasi Universal Service Obligation (USO) di Gedung Depkominfo, Jakarta, Rabu (7/1/2009) mengatakan “September tahun ini kami harap setidaknya lima blok USO sudah terhubung. Ini untuk menciptakan e-Indonesia. Sebab, USO tak hanya untuk telepon saja, tapi juga akses internet yang langsung bisa dimanfaatkan masyarakat desa” .

Sejalan dengan harapan Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut diatas, Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) menghimbau dan mendorong TELKOMSEL yang telah memenangkan 2 blok tender USO untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi broadband (sekurang-kurangnya 256 Kbps) diantaranya Broadband Wireless Access (BWA) untuk merealisasikan desa digital pada program USO ini dan tidak hanya cukup menghandalkan penggunaan teknologi GPRS yang dirasakan tidak memadai lagi.

FKBWI juga kembali mengingatkan agar tidak timbul masalah dan konflik antara pengguna publik dan pemenang USO dalam penggunaan alokasi frekuensi 2.400 GHz – 2.4835 GHz untuk senantiasa dilakukan koordinasi bersama apabila pemenang tender USO akan menggunakan alokasi frekuensi tersebut. Disamping itu diharapkan pemerintah dapat menjalankan fungsi pengawasan dan penertiban (antara lain harus memenuhi spesifikasi daya pancar perangkat 100 mwatt dan EIRP 36dBm) sehingga tujuan pembebasan frekuensi tersebut bagi kepentingan publik sebagaimana KM. 2 Tahun 2005 Peraturan Menteri Perhubungan yang sampai hari ini masih berlaku tetap dapat tercapai.

Akhirnya FKBWI mengucapkan selamat kepada TELKOMSEL yang telah memenangkan 2 blok tender USO ini, semoga asa untuk terwujudnya e-Indonesia di pedesaan melalui program USO ini benar-benar dapat terjadi.

Share/Bookmark this!

Leave a reply

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally recognized avatar, please register at Gravatar.

Side Notes

This entry was posted by on January 10, 2009 at 4:39 am and filed under ICT World category.

You can add your comments or trackback from your own site. To keep you updated to the latest discussion, you can subscribe to these comments via RSS.

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally recognized avatar, please register at Gravatar.

Categories

Tags

Wahyu Haryadi, Praktisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Bekerja disalah satu vendor teknologi telekomunikasi 4G. Aktif sebagai Penggiat di Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) dan Perkumpulan Indonesia Wireless Broadband (IDWiBB), Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) dan Sekjen di Forum Alumni Institut Teknologi Telkom (FAST)