<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Berharap kepada Pemerintah Mendatang .. Semoga Lebih Baik!</title>
	<atom:link href="http://wahyu.haryadi.or.id/2009/01/01/berharap-kepada-pemerintah-mendatang-semoga-lebih-baik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wahyu.haryadi.or.id/2009/01/01/berharap-kepada-pemerintah-mendatang-semoga-lebih-baik/</link>
	<description>............. let&#039;s explore and share thoughts and ideas</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 May 2011 06:33:13 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: wahyu</title>
		<link>http://wahyu.haryadi.or.id/2009/01/01/berharap-kepada-pemerintah-mendatang-semoga-lebih-baik/comment-page-1/#comment-2386</link>
		<dc:creator>wahyu</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 01:54:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wahyu.haryadi.or.id/?p=148#comment-2386</guid>
		<description># Chandra, Terima Kasih atas tanggapannya. 
Pada prinsipnya saya pribadi tidak menentang program Industri Dalam Negeri (IDN), saya sangat setuju IDN untuk dikembangkan. Namun sebaiknya program membangun IDN dilakukan secara benar, secara sistematis dan bertahap, tidak dilakukan sporadis karena ingin populis. Membangun industri hitech seperti telekomunikasi khan nggak gampang karena padat teknologi dan tentunya padat modal. Saat ini kita sendiri pada kenyataannya bukanlah pencipta teknologi. Misalnya WiMAX, khan sudah diciptakan oleh orang lain terlebih dahulu. Kita mungkin hanya menambah feature atau bahkan hanya meniru (meng-copy) atau jangan-jangan cuman ganti merek saja. 
Saya setuju sekali dengan konsep alih teknologi, dengan kekuatan pasar yang dimiliki. Deal-deal business yang dilakukan oleh para operator dengan vendor sebenarnya bisa dimintakan proses transfer teknologi. Para vendorpun mau tidak-tidak mau karena ada &quot;bisnis&quot;nya maka akan melakukan proses ini jika ingin mendapatkan order dari operator. Tapi kalau dibalik, vendor disuruh melakukan investasi pabrik di Indonesia terlebih dahulu dan belum tentu ada bisnisnya, pastinya para vendor mikir sejuta kali. Belum lagi kita masih kalah bersaing dengan negara tetangga yang telah memberikan banyak insentif yang menarik bagi pihak asing untuk berinvestasi contohnya Malaysia dan Vietnam.
Untuk chipset, yang saya ketahui itu sebenarnya inisiatif swasta yang kebetulan SDMnya kebanyakan berasal dari ITB. Motor penggeraknya memang ada 2 orang yang kebetulan lulusan dari Jepang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p># Chandra, Terima Kasih atas tanggapannya.<br />
Pada prinsipnya saya pribadi tidak menentang program Industri Dalam Negeri (IDN), saya sangat setuju IDN untuk dikembangkan. Namun sebaiknya program membangun IDN dilakukan secara benar, secara sistematis dan bertahap, tidak dilakukan sporadis karena ingin populis. Membangun industri hitech seperti telekomunikasi khan nggak gampang karena padat teknologi dan tentunya padat modal. Saat ini kita sendiri pada kenyataannya bukanlah pencipta teknologi. Misalnya WiMAX, khan sudah diciptakan oleh orang lain terlebih dahulu. Kita mungkin hanya menambah feature atau bahkan hanya meniru (meng-copy) atau jangan-jangan cuman ganti merek saja.<br />
Saya setuju sekali dengan konsep alih teknologi, dengan kekuatan pasar yang dimiliki. Deal-deal business yang dilakukan oleh para operator dengan vendor sebenarnya bisa dimintakan proses transfer teknologi. Para vendorpun mau tidak-tidak mau karena ada &#8220;bisnis&#8221;nya maka akan melakukan proses ini jika ingin mendapatkan order dari operator. Tapi kalau dibalik, vendor disuruh melakukan investasi pabrik di Indonesia terlebih dahulu dan belum tentu ada bisnisnya, pastinya para vendor mikir sejuta kali. Belum lagi kita masih kalah bersaing dengan negara tetangga yang telah memberikan banyak insentif yang menarik bagi pihak asing untuk berinvestasi contohnya Malaysia dan Vietnam.<br />
Untuk chipset, yang saya ketahui itu sebenarnya inisiatif swasta yang kebetulan SDMnya kebanyakan berasal dari ITB. Motor penggeraknya memang ada 2 orang yang kebetulan lulusan dari Jepang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Chandra</title>
		<link>http://wahyu.haryadi.or.id/2009/01/01/berharap-kepada-pemerintah-mendatang-semoga-lebih-baik/comment-page-1/#comment-2385</link>
		<dc:creator>Chandra</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 01:36:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wahyu.haryadi.or.id/?p=148#comment-2385</guid>
		<description>bagus juga potingannya,seru dibaca...saya cuma mau mengomentari beberapa hal

1. soal kebebasan berpendapat,,memang benar dan sudah diatu dlm undang2 tapi indonesia merupakan negara yang baru masuk ke tahap transisi kebebasan berpendapat. jd ga aneh klo bnyk yg msh &quot;dikebiri:. itulah pemerintahan kita :(
2. soal cap vendor asing mementingkan produknya terjual..saya melihat dari kacamata orang indonesia yang negaranya sengat massive sekali diserbu produk dari luar negere di berbagai aspek. terlepas saya yg masih kuliah di ittelkom dan blm tahu dunia kerja juga bgmn..he3x..sy pikir pemerintah melakukan keputusan yg sulit disini. knp?ya karena dengan segala &quot;keterbatasan&quot; (biasanya siy modal) berusaha memajukan industri DN(dlm negeri).memang cost pasti jadi mahal dalam upaya memproteksi produk DN,tapi kita lihat cina..dia tdk mengaplikasikan 3G pd HP yg dia buat krn dia sendiri mengembangkan 3Gnya sendiri...berapa kira2 risetnya mereka???????seperti yg pernah saya liat di berita klo ITB gn dibantu jepang telah sukses membuat chipset wimax nasional,lupa namanya apa. soal pendapatan dari pajak dari masing2 vendor. jumlahnya mungkin besar,tapi menurut saya itu memberikan dampak kedepannya yg kurang baik,negara ini menjadi semakin konsumtif produk LN.

mungkin yg diperlukan adalah alih teknologi,bukan sekedar menjadikan indonesia sbg lahan pemasaran saja. kita lihat cina lagi,terutama militer(yg saya tau ini sih..he2x..:peace:)mereka membeli missile dan senjata jinjing dari rusia dalam jumlah besar(sangat besar malah) untuk keperluan angkatannya,yg mereka lakukan ini ternyata agar didapat lisensi produksi sendiri,untuk kemudian dikembangkan. saya ga tau apakah hal ini bisa diterapkan di pertelekomunikasian tapi melihat kasus chipset buatan ITB diatas,sepertinya bisa kearah seperti itu.

untuk perusahaan asing,sudah barang tentu pendapatan/uang utamanya bukan &quot;berputar&quot; di indonesia,melainkan ke negara asalnya. meskipun yg dipekerjakan disini adalah orang indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagus juga potingannya,seru dibaca&#8230;saya cuma mau mengomentari beberapa hal</p>
<p>1. soal kebebasan berpendapat,,memang benar dan sudah diatu dlm undang2 tapi indonesia merupakan negara yang baru masuk ke tahap transisi kebebasan berpendapat. jd ga aneh klo bnyk yg msh &#8220;dikebiri:. itulah pemerintahan kita <img src='http://wahyu.haryadi.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
2. soal cap vendor asing mementingkan produknya terjual..saya melihat dari kacamata orang indonesia yang negaranya sengat massive sekali diserbu produk dari luar negere di berbagai aspek. terlepas saya yg masih kuliah di ittelkom dan blm tahu dunia kerja juga bgmn..he3x..sy pikir pemerintah melakukan keputusan yg sulit disini. knp?ya karena dengan segala &#8220;keterbatasan&#8221; (biasanya siy modal) berusaha memajukan industri DN(dlm negeri).memang cost pasti jadi mahal dalam upaya memproteksi produk DN,tapi kita lihat cina..dia tdk mengaplikasikan 3G pd HP yg dia buat krn dia sendiri mengembangkan 3Gnya sendiri&#8230;berapa kira2 risetnya mereka???????seperti yg pernah saya liat di berita klo ITB gn dibantu jepang telah sukses membuat chipset wimax nasional,lupa namanya apa. soal pendapatan dari pajak dari masing2 vendor. jumlahnya mungkin besar,tapi menurut saya itu memberikan dampak kedepannya yg kurang baik,negara ini menjadi semakin konsumtif produk LN.</p>
<p>mungkin yg diperlukan adalah alih teknologi,bukan sekedar menjadikan indonesia sbg lahan pemasaran saja. kita lihat cina lagi,terutama militer(yg saya tau ini sih..he2x..:peace:)mereka membeli missile dan senjata jinjing dari rusia dalam jumlah besar(sangat besar malah) untuk keperluan angkatannya,yg mereka lakukan ini ternyata agar didapat lisensi produksi sendiri,untuk kemudian dikembangkan. saya ga tau apakah hal ini bisa diterapkan di pertelekomunikasian tapi melihat kasus chipset buatan ITB diatas,sepertinya bisa kearah seperti itu.</p>
<p>untuk perusahaan asing,sudah barang tentu pendapatan/uang utamanya bukan &#8220;berputar&#8221; di indonesia,melainkan ke negara asalnya. meskipun yg dipekerjakan disini adalah orang indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

