Belakangan ini berbagai operator seluler berlomba beriklan dengan tema yang relatif sama “Tarif Murah” untuk berebut pasar. Sebenarnya penurunan tarif ini baik buat masyarakat, namun jika tidak ada sistem QoS maka ini akan berdampak buruk terhadap pelayanan secara keseluruhan.
Sebagai contoh, sejak perang tarif ini dimulai saya sangat susah sekali melakukan panggilan telpon baik itu dalam satu operator ataupun antar operator. Padahal, saya sebagai pelanggan pasca bayar jumlah tagihan yang saya bayarkan tetap segitu-gitu aja alias tidak mendapatkan potongan discount. Program tarif murah ini umumnya berlaku untuk pelanggan baru ataupun kepada jenis produk/layanan tertentu.
Pemerintah dengan kondisi yang terjadi ini, nampaknya belum melakukan tindakan apapun untuk mengingatkan para operator atas buruknya layanan ini. Para operatorpun berdalih, buruknya layanan ini adalah konsekwensi logis atas turunnya tarif ponsel dimana orang-orang akhirnya ramai-ramai bertelpon ria yang menyebabkan traffic meningkat. Direktorat Standardisasi POSTEL yang seharusnya berperan aktif untuk mengatasi masalah ini keliatannya malah kebingungan untuk melakukan apa. Akhirnya sebagai konsumen, kita hanya dapat pasrah menerima kenyataan yang merugikan ini.
Kebutuhan atas layanan ponsel saat ini meningkat dengan demikian pesatnya. Ketika diawal tahun 1990an, ponsel masih merupakan barang mewah sekarang ditahun 2008 ponsel telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan quick survey yang dilakukan oleh konsultan GRP untuk periode 3-4 Juli 2008 terhadap +/- 460 responden di 39 kota, kebutuhan pulsa HP menduduki peringkat ke 4 setelah lauk pauk, listrik dan transportasi. Mengalahkan kebutuhan akan gas/bahan bakar, air/pam, jajanan, rekreasi, bensin dan kosmetik (Dikutip dari Presentasi Wahyu Wijayadi, Direktur Indosat pada acara Dialog Investasi yang dilaksanakan oleh Kantor Menko Ekuin). Hal ini dapat kita lihat sendiri, mulai dari anak TK sampai anak kuliahan, kuli bangunan, tukang becak, pedagang pasar hingga pejabat tinggi rata-rata telah memiliki ponsel. Bahkan untuk kalangan tertentu, ponsel yang dimiliki bisa lebih dari satu unit. Tentunya hal ini patut disyukuri bahwa layanan komunikasi sekarang tidak hanya menjadi milik orang berduit tapi telah memasyarakat. Pemerintah SBY pun berpuas diri atas pencapaian ini, hal ini tercermin di pidato yang disampaikan di depan sidang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) beberapa waktu yang lalu.
Kembali ke masalah diatas, terlepas dari keharusan operator untuk dapat menurunkan tarifnya agar dapat terjangkau oleh masyarakat. Operator seharusnya tetap dapat mempertahankan layanan yang baikke masyarakat. Peranan pemerintah dalam mengawasi performansi layanan ini diperlukan agar operator tidak semena-mena kepada konsumennya. Minimal seharusnya ada perbedaan standar layanan yang diberikan untuk segmen tarif murah dan standar layanan untuk segmen tarif normal. Bagi saya pribadi yang terjun di dunia usaha, keberhasilan menghubungi seseorang lebih penting daripada tarif murah tapi tidak bisa menghubungi.

Setuju, skrg bnyk yg layanannnya menjijikan. jelek bngt. Hanya beberapa operator senior aj yg msh memberikan layanan bagus.. Fuiiih..
Telkomsel tuh penipu kelas kakap! Mutu jaringannya buruk. Jangankan buat internet, buat telepon aja gak karuan. Sinyalnya naek turun kayak jaman pertama kali ada layanan seluler. Gue nyesel 7 turunan sudah pake produk-produk tsel. Mereka maunya memeras duit rakyat kecil! Biar perut mereka meleduk di neraka nanti.