Skip to content


Industri WiMAX (d) Lokal = Kepentingan Nasional kah ??

Saat ini Depkominfo khususnya Postel sangat bersemangat membicarakan industri dalam negeri untuk teknologi WiMAX, karena alasan menunggu kesiapan industri dalam negerilah tender license WiMAX belum juga digelar. Sebenarnya apa sich tujuan digalakkan industri dalam negeri ini ? Mungkin beberapa alasan berikut adalah jawabannya

  • Untuk penyerapan tenaga kerja ?
  • Mengurangi penggunaan devisa / capital flight karena belanja perangkat telekomunikasi ke vendor asing ?
  • Hanya untuk kebanggaan / semangat nasionalisme ?
  • dst ………?

Dari beberapa pertemuan yang sempat saya hadiri dan kebetulan sang penguasa Depkominfo dan Postel hadir dan memberikan sambutannya. Ilustrasi yang dipakai selalu ilustrasi burung walet dimana pemerintah tidak ingin kita hanya kebagian “telek” dan ingin supaya kita bisa dapat “air liur”nya. Data-data yang selalu dikutip adalah data-data yang terkait dengan CAPEX sektor telekomunikasi yang mencapai puluhan triliun (tahun ini diperkirakan akan mencapai 60 triliun) dan industri manufaktur dalam negeri hanya kebagian 3%. Dan selain itu juga diangkat masalah issue penyerapan tenaga kerja dengan tumbuhnya industri dalam negeri. Mari kita telaah bersama kedua pernyataan ini.

Masalah CAPEX, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa CAPEX ini besar karena akibat pembangunan jaringan industri seluler dan termasuk 3G. Karena tidak ada lagi sektor telekomunikasi yang seheboh industri seluler saat ini dalam urusan CAPEX. Kalau sekarang industri WiMAX lokal diharapkan dapat mengurangi CAPEX porsi belanja luar negeri saya yakin ini akan salah alamat. Harusnya bagaimana cara pemerintah juga harus membangun industri dalam negeri untuk selular khususnya 3G (investasinya cukup mahal) sehingga keluhan hanya dapat “telek” dan mimpi dapat “air liur” ini dapat tercapai. Kalau tidak, sampai kapanpun kita akan tetap hanya menikmati “telek” saja. Penetrasi pengguna data/internet kita sampai saat ini masih kecil, salah satu prediksi mengatakan hingga tahun 2010 pengguna broadband internet baru dikisaran angka 2 jutaan saja, tidak seperti komunikasi suara/seluler yang hari ini telah mencapai 60 jutaan.

Kedua masalah penyerapan kerja, dengan tumbuhnya industri telekomunikasi khususnya selular saat ini banyak sekali sarjana – sarjana kita yang dapat bekerja. Tidak hanya sarjana telekomunikasi (elektro) bahkan sarjana lulusan non telekomunikasipun banyak yang dapat bekerja disektor ini baik yang bergabung di operator atau vendor yang dapat proyek. Harusnya kita malah khawatir dengan serbuan vendor selular China yang membawa tenaga kerja dari negara mereka masuk ke Indonesia.

Menghidupkan industri WiMAX dalam negeri berapa besar penyerapan tenaga kerjanya? Apalagi industri telekomunikasi adalah industri padat teknologi dan padat modal bukan industri padat karya. Kita lihat saja berapa orang yang terlibat di proyek WiMAX (standar “d”) SKP (Indonesia Tower) ataupun Hariff yang hanya melakukan aktivitas R&D dan bandingkan dengan jumlah orang yang bekerja dioperator BWA (Lintasarta, IM2 & CSM misalnya) saat ini. Dengan menahan regulasi BWA/WiMAX terlalu lama dan hanya memberikan teknologi yang tidak bisa kompetitif dengan 3G, operator-operator BWA ini bisa saja “kolaps” dan berapa banyak tenaga kerja yang akan kehilangan pekerjaan ?

Ada yang berpendapat bahwa di negara manapun setiap warga negara yang setia kepada negara akan membela kepentingan nasional termasuk produk nasional. Menurut pendapat saya membela kepentingan nasional memang harus dilakukan, tapi kepentingan nasional yang mana? Membela segelintir orang yang mengaku industri dalam negeri (karena telah membuat WiMAX (d) lokal) bukanlah merupakan kepentingan nasional? Mensejahterakan rakyat Indonesia, memberikan layanan telekomunikasi yang baik dan terjangkau, memberikan layanan internet murah dan memerangi “digital divide” adalah kepentingan nasional kita. Apakah industri WiMAX lokal (“d”) bisa menjawab hal ini ? Sedangkan disisi lain menggantungkan diri kepada pembangunan selular berbasis 3G untuk menjawab kepentingan nasional ini akan semakin meningkat belanja luar negeri kita. Oleh karenanya kalau pemerintah tidak bisa memaksakan industri lokal disektor selular/3G, mari kita bangun industri WiMAX (“e”) lokal dan kita petakan ekosistem dan roadmapnya yang memungkinkan terjadinya sinergi kemampuan lokal dan global. Dengan mengacu ke standar WIMAX global, pasar industri WiMAX kita tidak terbatas ke pasar Indonesia saja tapi juga pasar global. Kita bisa belajar dari industri WiMAX lokal Taiwan kalau kita mau.

Jadi, kepentingan nasional yang manakah yang harus kita bela ?

Posted in ICT World.


2 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Anis says

    Hai.. Salam kenal lagi ah, aku gak yakin kita dulu pernah kenal di kampus.
    Btw, makasih ya udah masukin blog aku ke aggregator alumni IT Telkom. Padahal aku belum sempet daftar. :-)

  2. wahyu says

    #Anis: Salam kenal juga, senengnya dikunjungi oleh Seleb Blognya Telkom.us :-)

    Aku malah minta maaf telah memasukan blog-blog rekan alumni tanpa ijin terlebih dahulu. Upaya ini nggak ada tujuan lain kecuali semata berusaha mempertemukan dan mempersatukan potensi-potensi alumni IT Telkom melalui dunia maya.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.