Hari ini, 100 tahun yang lalu berdirilah organisasi Boedhi Oetomo yang oleh kita setiap tahun diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Dinyatakan dan diperingati sebagai hari kebangkitan nasional karena pada masa itu bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dll. Penetapan tanggal 20 Mei 1908 sebagai hari Kebangkitan Nasional memang masih ada yang memperdebatkan dengan berbagai alasannya. Artikel menarik tentang perdebatan ini ditulis oleh Rizki Ridyasmara dan bisa dibaca di portal EraMuslim.com dengan judul 20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional . Menurut sang penulis, hari Kebangkitan Nasional seharusnya diperingati setiap tanggal 16 Oktober mengacu kepada hari kelahiran organisasi Syarikat Islam (SI) pada tanggal 16 Oktober 1905. Saya pribadi sich akan senang sekali kalau tanggal 16 Oktober diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional karena kebetulan pada tanggal tersebut adalah hari kelahiran saya. Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas lebih lanjut masalah perdebatan ini, karena saya bukanlah ahli sejarah sehingga biarlah yang ahlinya untuk mencari kebenaran.
Kembali kepada peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008. Masing – masing orang dan kelompoknya memaknai peringatan 100 tahun dengan berbagai kegiatan. Kegiatan seremonial terbesar dipusatkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan. Seluruh stasiun televisi menyiarkan acara ini secara langsung. Ratusan ribu orang hadir memeriahkan acara ini, puluhan ribu personel TNI & Polri dilibatkan baik untuk atraksi ataupun menjaga kelancaran acara. Berbagai perwakilan unsur masyarakat berpartisipasi menyemarakkan acara dengan menampilkan berbagai atraksi diantaranya 1000 pendekar pencak silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). 5000 mahasiswa dan mahasiswi Universitas Indonesia hadir membentuk paduan suara terbesar di Indonesia. Sungguh meriah menyaksikan acara yang disiarkan secara langsung ini. Sudah lama kita tidak pernah menyaksikan acara yang bersifat kolosal semacam ini. Acara ini telah membangkitkan kembali semangat kebangsaan kita.
Dilain pihak, kumpulan orang yang tergabung dalam penggemar motor gede (moge) melakukan konvoi / perjalanan sejauh 1908 Km melalui beberapa kota di pulau Jawa yang diberinama Jalur Merah Putih dalam rangka turut memeriahkan peringatan kebangkitan nasional. Pimpinan rombongan konvoi, aktor dan politisi Sophan Sophian menghebuskan napas terakhirnya karena kecelakaan akibat jalan rusak di perjalanan Kediri-Jogja. Terlepas dari perilaku beberapa oknum pengendara moge yang kadang sering menjengkelkan pengguna jalan lain, konvoi moge dalam kerangka peringatan kebangkitan nasional ini tetap mendapat apresiasi dari beberapa kalangan karena disetiap persinggahan dilakukan acara bakti sosial untuk masyarakat setempat.
Wanadri dan Kantor Menegpora juga melakukan peringatan kebangkitan nasional dengan cara yang berbeda yaitu dengan melakukan terbang solo Sabang-Merauke menggunakan microlight/trike dalam kegiatan yang diberi nama “Ekspedisi Trike Wanadri Menegpora Lintas Sabang Merauke”. Perjalanan solo dengan menggunakan trike jenis Pegasus GT 450 ini akan menempuh jarak 6.435 km dari Sabang sampai Merauke, 15 Mei-17 Juni mendatang. Dan masih banyak kegiatan – kegiatan lain yang dilakukan dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional.
Dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan tersebut diatas, sebenarnya apa yang ingin kita cari ?. Jawabannya adalah menggugah kembali rasa kebangsaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang katanya sudah mulai luntur. Kita belakangan ini sangat rindu atas berbagai prestasi bangsa yang membanggakan. Contohnya dibidang olahraga, kita sangat merindukan sekali Indonesia dapat berjaya kembali dipentas olahraga dunia. Setidaknya kita harusnya dapat kembali merebut posisi nomor satu di kawasan Asia Tenggara melalui ajang Sea Games misalnya. Begitu juga di Bulu Tangkis dan Sepak Bola yang menjadi olah raga favorit sebagian besar rakyat Indonesia. Lihatlah bagaimana animo masyarakat ketika Tim Indonesia bertarung di Piala Asia beberapa waktu yang lalu, puluhan ribu orang datang ke Senayan untuk memberikan semangat kepada tim nasional kita namun sayangnya kita belum berhasil. Begitu juga di event Piala Thomas dan Uber yang baru saja dimenangkan oleh China, kita sebenarnya sangat mengharapkan dapat merebut kedua piala tersebut.
Untuk itu marilah dengan deklarasi Indonesia Bisa! yang telah dicanangkan oleh Presiden SBY kita bersama-sama memajukan bangsa ini dengan berbagai prestasi di segala bidang sesuai dengan kompetensi yang kita miliki. Selamat Hari Kebangkitan Nasional ….. Jayalah Bangsaku , Jayalah Negeriku

waktunya engineer bangkit untuk membangun bangsa… salam : http://www.kebangkitan.com
Salam Harkitnas!
Dalam semangat 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional, bangsa Indonesia, terutama kaum mudanya, diingatkan kembali bahwa bangsa ini adalah bangsa yang dulu berjuang untuk persatuan.
Hal ini bukanlah hal yang mudah, terutama mengingat begitu banyaknya suku yang terdapat di bumi nusantara ini, membuat perbedaan yang ada juga banyak.
Namun kini 100 tahun telah berjalan, Indonesia telah membuktikan bahwa kita bisa berjalan beriringan sebagai satu bangsa.
Dalam semangat ini pula, EKSPEDISI TERBANG SOLO MENPORA WANADRI dilaksanakan. Melintasi angkasa nusantara dari Aceh sampai dengan Merauke dari tanggal 15 Mei – 17 Juni 2008, dengan tujuan akhir mengumpulkan dana bagi pembangunan RUMAH SAKIT KHUSUS GAWAT DARURAT (RSKGD) pertama di Indonesia.
Mohon dukungannya untuk ekspedisi ini.
Semoga rasa persatuan semakin dikuatkan dan RSKGD dapat dibangun.
Terima kasih
http://WWW.WANADRITRIKE.COM