Belum lama ini saya ikutan posting sebuah lamaran ke sebuah Headhunter yang berlokasi di daerah Kuningan, Jakarta. Posisi yang ditawarkan adalah posisi sebagai Business Development. Informasi awal diperoleh dari rekan kerja di kantor melalui email. Bunyi lowongan kerjanya adalah sebagai berikut :
“Here with, we enclosed our vacant positions that macthed well with your profile.
Business development position (junior to middle to senior and managerial level) in a multinational worldwide telecommunication company.
With basic requirements:
Experienced in Business Development/Marketing/Sales/Customer Service division in telecomunication industries (min.2 years for junior)
Have a good networking with Indonesia’s cellular connection provider (Indosat or telkomsel & Esia/Bakrie & Excel) ………………
To apply to any of these career challenges, simply reply to this email and our researcher will contact you and assist you profesionally to follow through the simpliest assestment procedure in your most convinience way.”
1 hari setelah berkirim resume, ada panggilan interview melalui handphone. Dari pembicaraan awal, intinya saya diminta datang ke kantor headhunter tersebut untuk melakukan interview pertama. Pada prinsipnya saya mau saja datang dengan prasyarat headhunternya mau memberitahu siapa nama kliennya. Namun dengan alasan policy perusahaan, mereka tidak mau menyebutkan nama kliennya terlebih dahulu. Ya sudah, akhirnya saya menyatakan mohon maaf saya tidak bisa memenuhi panggilan interview tersebut. Kenapa saya bersikukuh ingin mengetahui nama perusahaan tersebut sebelum datang ke interview karena saya ingin semuanya jelas diawal. Saya tidak ingin membuang waktu percuma karena bisa saja terjadi perusahaan tersebut bukanlah perusahaan yang saya inginkan.
Beberapa hari berlalu, saya kembali diminta datang ke interview melalui SMS. Namun kembali mereka tidak mau menyebutkan nama perusahaannya. Sekali lagi saya terpaksa menolak. Hingga pada beberapa hari yang lalu, kembali Headhunter tersebut menghubungi saya dan menyatakan bahwa mereka akhirnya mau mengubah policynya. Namun hingga hari ini belum ada tindak lanjutnya karena kebetulan handphone 2 hari yang lalu sempat tertinggal dirumah.
Yang menjadi pertanyaan, apakah prinsip saya untuk mengetahui nama perusahaan didepan sebelum melakukan interview dibenarkan secara etika perekrutan oleh Headhunter ?? Mohon tanggapan dan komentarnya … Terima Kasih

Tapi kantornya cakep…halah!
Maksudnya apa? Yang interview cakep …. ???
Mas Wahyu, sebetulnya masalah headhunter yang ‘keukeuh’ tidak mau menginformasikan nama klien kepada kandidat itu cukup jamak ditemui. Kadang itu memang menjadi permintaan si klien itu sendiri, dan kalau sudah seperti itu ya headhunter hanya bisa mengikuti.
Tapi kalau metode saya, pasti selalu saya sebutkan nama klien kepada kandidat… selama klien tidak ada keberatan namanya disebutkan diawal.
Alasan saya sama dengan Mas Wahyu, saya tidak mau membuang waktu dan tenaga memproses orang yang ternyata tidak berminat untuk kerja di perusahaan klien saya, sekalipun gaji yang ditawarkan mungkin lebih tinggi 50% dari gaji yang diterima kandidat saat ini.
Bisa dibaca juga posting saya ini untuk menambah pemahaman: http://suryosumarto.com/2008/05/04/klarifikasi-mengenai-cara-kerja-headhunter/
Mas Haryo, thanks untuk informasinya.
Sampeyan headhunter khusus untuk energy dan construction aja yach ? Kalo ada client telco boleh dong kontak saya
memang banyak headhunter yang seperti itu, tapi coba deh Anda cek di perusahaan ini.. saya dengar, referensinya cukup baik.. http://www.jac-recruitment.co.id.. selamat mencoba..