Skip to content


Kandungan “Local Industry” di Bisnis Telekomunikasi

Wacana penggunaan “Local Industry” dalam bisnis telekomunikasi kembali didengung-dengungkan oleh Pemerintah. Sebagaimana kita ketahui bersama, Pemerintah menunda tender BWA 2.3GHz yang semula direncanakan tahun 2007 ke tahun 2008. Penundaan tender spektrum frekuensi BWA 2.3GHz ini dengan alasan untuk memberikan waktu kepada industri dalam negeri untuk mempersiapkan produknya di 2.3GHz. Yang menarik adalah, apakah waktu satu tahun adalah waktu yang cukup bagi suatu industri membangun lini produknya ?

Umumnya diperlukan waktu yang cukup lama bagi suatu industri manufaktur untuk tumbuh, hal ini dimulai dari aktivitas Research & Development (R&D), Prototyping, Testing dan Mass Production. Lantas apa yang diharapkan dari waktu tahun yang diberikan oleh Pemerintah. Jangan-jangan yang terjadi hanyalah proses “ceremonial” dan “simbolis” belaka. Dimana produk utama tetap diproduksi diluar negeri sedangkan didalam negeri hanyalah proses “packaging” dan “labelling” saja.

Jika kita menengok ke belakang, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau dikenal dengan PT INTI didirikan dengan semangat untuk mengembangkan industri manufaktur disektor telekomunikasi. Namun yang terjadi hari ini, PT INTI lebih banyak bergerak dibidang jasa dibandingkan industri manufaktur dalam kemasan “Infocom System & Technology Integration“. Dahulu kala PT INTI bekerjasama dengan salah satu prinsipal asing ternama mengembangkan perangkat switching yang dikenal dengan STDIK. Namun ketika prinsipal asing tersebut tidak lagi mengembangkan produk tersebut, produk STDIKpun terkena “impact”nya. Pelajaran yang seharusnya diambil, apabila kita ingin mengembangkan industri manufaktur kita seharusnya memiliki R&D yang kuat dan berkesinambungan. Jika industri manufaktur kita hanyalah sebatas industri perakitan dan hanya kepanjangan tangan prinsipal saja, dengan mudah industri itu akan mati jika prinsipal menarik diri atau tidak mengembangkan produk tersebut. Membangun industri manufaktur bukanlah perkara yang mudah, dibutuhkan waktu, ketekunan dan etos kerja yang tinggi. Dukungan pemerintah, keuangan dan kalangan pendidikan sangat diperlukan.

Sebagai penutup, industri lokal janganlah diidentikkan dengan industri manufaktur (industri pabrikan/hardware) saja karena terdapat juga industri rancang bangun aplikasi (software) yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Industri software selain lebih banyak melibatkan partisipasi masyarakat juga bukan merupakan industri padat modal sebagaimana industri manufaktur. Kampus – kampus Perguruan Tinggi bisa menjadi basis tumbuhnya industri ini. Terlebih kemajuan teknologi BWA/WiMAX menjanjikan kecepatan akses yang lebih baik membutuhkan berbagai layanan dan aplikasi yang menarik. Kesimpulannya, “Local Industry” tidak harus hardware khan ?? (W.Hy)

Posted in ICT World.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.