Puisi Dodol Pramuka Masa Kini
August 3, 2006 # 2:49 pm # Miscellaneous # 5 Comments
Apa yang kita harapkan dari pramuka sekarang? Tangkas, terampil, mandiri, bersahaja? Ah, itu kepanduan di masa lalu. Jambore Nasional 2006 yang berlangsung di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, 16-23 Juli 2006 banyak diisi kegiatan “pendidikan konsumen”. Maklum, ini pramuka di era konsumsi.
Simak saja bagaimana sebuah sesi Jambore Nasional (Jamnas) yang berjudul Keterampilan Otomotif diisi oleh orang-orang yang memakai kaus merah menyala bertuliskan I Love Honda. “Ini namanya Supra X 1.25, tadi kita sudah belajar kan tentang produk ini…,” kata pemandu yang berasal PT Adira Mustika, dealer utama sepeda motor Honda di Jawa Barat.
Lebih dari 250 anggota pramuka penggalang berusia 11-15 tahun diminta duduk dan memerhatikan dengan saksama. Sebelumnya, mereka sudah belajar dan mencatat tentang produk-produk Honda yang dipamerkan. “Kami ajarkan cara mengendarai motor yang baik, selain ini memang acara untuk brand awareness. Walau mereka belum boleh mengendarai motor, tapi mereka kan calon konsumen di masa depan,” kata Aris Djatmiko, Marketing Communication Supervisor PT Daya Adira Mustika, yang mengawasi kegiatan yang diadakan pada pukul 08.00-16.00 itu.
Sama seperti sesi otomotif, sebuah sesi makanan daerah dodol Garut yang disponsori Picnic juga mempertontonkan cara membuat dodol kepada para anggota pramuka. Hari sebelumnya, seharian mereka “diajari” tentang sejarah dodol hingga jenis-jenis dodol untuk dibuat makalah. Hari kedua, para peserta diminta membuat lagu dodol hingga puisi dodol. Setelah berdodol-dodol ria, Picnic tidak lupa membagikan brosur, pamflet, bahkan kenang-kenangan berupa dodol segala rasa. “Kami juga kasih mereka foto gratis dengan dodol Picnic,” kata Ayek Cahya dari bagian pemasaran dodol Picnic.
Apalagi yang kurang untuk membentuk jiwa konsumtif hampir 19.000 remaja itu? Dari sudut pandang pendidikan dan konsep-konsep ideal kepanduan, inilah saat untuk membentuk karakter anak muda yang mandiri dan tahan banting. Namun, pihak industri konsumsi pun tidak kalah canggih. Mereka melihatnya sebagai peluang potensi pasar, atau yang istilah canggihnya adalah “pendidikan konsumen” demi mencapai loyalitas jangka panjang.
Acara di luar lokasi, selain diisi acara petulangan seperti menyusur Goa Buni Ayu dan Gunung Tangkubanprahu, juga ada tur Kota Bandung. Jangan kaget kalau factory outlet termasuk sebagai tujuan selain Museum Sri Baduga dan Museum Geologi. Yang lebih ironis lagi, ketika ada rombongan yang tidak berangkat, Senin (17/7), karena masalah transportasi, para anggota pramuka tetap tapi diberi cap “telah ikut serta jalan-jalan” di kartu pesertanya. Yang lalu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, apakah kejujuran atau ketidakjujuran yang diajarkan di sini?
Sumber : Kompas, Minggu, 23 Juli 2006 (Edna C Pattisina)
Subscribe RSS
Comment RSS









Salam pramuka
Bg bngsa ku tercinta para pemuda mari kt bngkit kt tegakkan gerakan pramuka hdup pramuka.
salam pramuka!!!!
bagi penerus pramuka yang akan datang,,,teruslah majukan pramuka agar lebih baik lagi,,,
salam pramuka….!
bg tmn2 yg mengikuti kegiatan pramuka saya sgt brharap smoga semua yg klian lkukun dpt br guna bg kehidupan kalian mendatang……..
salam Pramuka..
terus jaya pramuka indonesia
salam pramuka,,,,,,,,,,,,,,
saya berharap pramuka ini do bawa sampai kalian mati,,,,,,,,,
karna pramuka ini yang akan mngajar kalia tentang pramuka,,,,,,,dan sebab itu pramuka itu hrs kita lanjut kan