Skip to content


Laporan Kunjungan ke “Pabrik WiMAX” TRG di Batam

Atas undangan PT Teknologi Riset Global (TRG), saya mewakili MASTEL berkesempatan melihat proses pabrikasi (dibaca perakitan) perangkat “WiMAX” yang dilakukan oleh TRG di Batam. Dalam kunjungan pabrik ini, hadir Direktur Standardisasi Azhar Hasyim dan jajaran staff Ditjen Postel, para operator BWA diantaranya TELKOM, Lintasarta, IM2, Berca dan Firstmedia, perwakilan Ristek & BPPT dan beberapa rekan media diantaranya Detik, Koran Jakarta, Antara, Selular, Bisnis Indonesia dan Investor Daily.

Secara umum proses pabrikasi yang dilakukan di Batam adalah meliputi contract manufacturing (CM), perakitan barang jadi dan test fungsi kerja. Proses perakitan perangkat “WiMAX” dilakukan di fasilitas milik PT SIIX Electronic Indonesia di Batamindo Industrial Park, Muka Kuning, Batam.

Proses perakitan dilakukan di Batam dengan pertimbangan bahwa di Batam terdapat fasilitas industri yang sangat menunjang untuk perakitan dan serta kemudahan proses import karena dari 400 komponen untuk perangkat sebagian besar masih harus diimport. Dari penjelasan staff TRG, saat ini ternyata hanya sedikit komponen saja yang bisa dibeli dari perusahaan dalam negeri. Kondisinya memang sangat ekstrim karena hanya sekitar 1 persen saja komponen yang bisa didapat di Indonesia.

Untuk proses perakitan ini, TRG dibantu oleh Tranzeo Wireless sebagai Technology Partner untuk pengembangan Subscriber Station (SS) sedangkan untuk Base Station (BS) dibantu oleh Aperto. Dari kunjungan di SIIX, proses perakitan untuk perangkat SS dilakukan mulai dari PCB sedangkan untuk perangkat BS hanya perakitan akhir saja. SIIX mengalokasikan assembly line khusus untuk merakit perangkat subscriber station TRG WiMAX.

Yang menarik, SIIX walau berstatus PMA memperkerjakan banyak tenaga lokal Indonesia, hanya beberapa manajemen inti saja yang masih ditempati oleh WNA.

Selain berkunjung ke SIIX, dilakukan juga kunjungan ke PT SANWA Engineering Batam yang memproduksi part casing dari perangkat subscriber station. SANWA yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia yang saat ini berdomisili di Singapura mampu melakukan pekerjaan plastics moulding injection dengan tingkat presisi yang tinggi.

Dari paparan yang disampaikan oleh staff TRG, kapasitas produksi setiap bulannya saat ini adalah 80 unit base station sedangkan untuk subscriber station sebanyak 4000 unit. Kapasitas ini akan ditingkatkan seiring dengan rencana ekspansi membangun pabrik sendiri di Kawasan Industri Cikarang tahun depan.

Upaya yang dilakukan TRG dalam membangun industri lokal ini patut diapresiasi walau aktivitas yang dilakukan saat ini hanya berupa perakitan. Dengan pola perakitan dan kerjasama dengan vendor global sebagai technology partner yang dilakukan saat ini seharusnya TRG juga mampu untuk mengembangkan perangkat WiMAX berbasis 802.16e dan tidak hanya memproduksi perangkat 802.16d yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pasar.

Dari diskusi dengan rekan-rekan operator BWA yang mengikuti kunjungan pabrik ini terkait dengan perangkat yang dihasilkan khususnya untuk subscriber station yang hanya satu jenis saja yaitu jenis outdoor dianggap tidak sesuai dengan bisnis model para operator BWA khususnya untuk daerah urban. Para operator BWA lebih menyukai subscriber station jenis indoor karena kemudahan instalasi dan juga untuk menghemat biaya dan waktu instalasi. Sebagaimana kita ketahui bersama, untuk jenis outdoor diperlukan pemasangan perangkat diluar rumah dan proses pengkabelan layaknya pemasangan antenna parabola.

Hal lain yang dikhawatirkan oleh operator BWA adalah layanan broadband internet ini tidak dapat bersaing dengan layanan sejenis dari operator 3G karena faktor instalasi yang rumit ini. Kita tahu saat ini operator seluler khususnya 3G telah meluncurkan layanan broadband internet dengan perangkat yang jauh lebih simple dan portable berupa USB dongle. Semoga Pemerintah dapat meninjau ulang peraturan terkait layanan BWA dan segera mengijinkan implementasi standar WiMAX yang lebih baik yaitu 802.16e untuk menghindari kerugian dipihak operator dan terlebih kerugian di masyarakat untuk mendapat layanan yang terbaik.

Wahyu Haryadi, MASTEL

Posted in ICT World.


Catatan Pinggiran Tender BWA 2,3 GHz : Senyum dan kebahagiaanmu, kekhawatiran dan kegalauanku

Pemerintah nampak tersenyum dengan telah selesai proses tender spektrum BWA 2,3 GHz dan telah ditetapkannya pemenang untuk masing-masing region dengan telah direleasenya Siaran Pers No. 155/PIH/KOMINFO/7/2009 : Pengumuman Hasil Lelang Tender BWA (http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1275). Terlebih kebahagiaan ini terasa lebih indah karena akhirnya tender spektrum ini juga menghasilkan Rupiah yang tidak sedikit jumlahnya yaitu hampir setengah Triliun Rupiah untuk keseluruhan area yang berjumlah 15 region.

Terus terang, hasil tender lisensi spektrum BWA 2,3 GHz ini sungguh luar biasa, menarik dan mengejutkan. Kenapa demikian, berikut penjelasannya :

Pertama, harga yang selangit untuk Zone-4 Banten dan Jabotabek. Katakan untuk license 3G yang lalu untuk 5 MHz nasional, Telkomsel membayar 160 milyar yang berarti jika dianalogikan terdapat 15 region yang sama untuk 3G rata-rata berarti per region per 1 Mhz adalah 2 Milyar Rupiah, sehingga setidaknya utk 15 MHz harganya menjadi 30 Milyar. Sedangkan dari hasil lelang BWA yang berakhir hari ini, diketahui harga akhir Zona 4 yang tertinggi adalah 120 milyar ini berarti bisa dikatakan 4 kali lipat lebih mahal dari harga spektrum 3G.

Kedua, munculnya pemenang tender yang merupakan pelaku-pelaku baru di industri BWA yang sudah barang tentu akan semakin membuat dinamis industri ini. Setidaknya harapan pemerataan kesempatan untuk berbisnis di Industri BWA dengan munculnya pemain baru ini telah terwujud.

Ketiga, terdapat satu perusahaan yang mampu menguasai 8 zona sekaligus dan mengalahkan 2 operator besar, terus terang ini agak mengherankan dan merupakan keputusan yang sangat berani dan cenderung nekat. Bagaimanakah hitungan bisnis yang digunakan dan apa yang menjadi keyakinan perusahaan ini untuk mengambil sedemikian banyak region. Terlebih perangkat BWA yang diijinkan untuk digunakan saat ini hanyalah perangkat BWA nomadic yang menggunakan standar mirip WiMAX 802.16d

Tantangan sekaligus menjadi pertanyaan bersama adalah apakah harga spektrum yang selangit dan munculnya pelaku-pelaku baru ini akan membuat layanan internet menjadi terjangkau? Dan seberapa cepatkah layanan ini bisa dinikmati oleh masyarakat mengingat infrastrukur yang harus disiapkan? Masalah spektrum dan lisensi dari model bisnis yang pernah dibuat oleh sebuah konsultan hanya berkontribusi sekitar 7% dari Total Cost Ownership (TCO), masih banyak biaya-biaya lain yang berkontribusi diantara Site Cost, Backhaul/Backbone, Core Network dan yang terbesar adalah Operating Cost yang mencapai 54%. Inilah adalah kekhawatiran dan kegalauan setidaknya untuk saya pribadi dan mungkin juga banyak teman-teman yang lainnya yang mendambakan layanan broadband internet yang terjangkau.

Terakhir, jika memang Pemerintah konsisten dengan pengelolaan spektrum frekuensi yang merupakan sumber daya terbatas dan bernilai harganya. Setidaknya bercermin dari hasil lelang BWA 2,3 GHz dimana Pemerintah berhasil mendapatkan kurang lebih setengah triliun untuk PNBP, Pemerintah juga seharusnya memberlakukan hal yang sama untuk frekuensi 2,5 GHz dimana saat ini terdapat sebuah perusahaan menggunakan (”menguasai”) 150 MHz untuk sebuah layanan yang kemanfaatannya untuk masyarakat banyak dipertanyakan. Jika menggunakan hitungan hasil tender BWA 2,3 GHz, potensi PNBP dari BHP yang dapat diperoleh dari frekuensi 2,5 GHz ini setidaknya bisa mencapai 25 triliun Rupiah, sungguh angka yang sangat fantastis. Kenyataannya sekarang, dari sebuah sumber didapat informasi perusahaan ini untuk penggunaan 150 MHz hanya dikenakan BHP pertahun yang sangat rendah. Kita lihat sajalah bagaimana Pemerintah mensikapi lebih lanjut masalah ini.

Wahyu Haryadi,
Penggiat BWA, Anggota FKBWI

(Silahkan mengkutip dengan pemberitahuan sebelumnya)

Posted in ICT World.


Majulah Industri Kreatif Indonesia !

Senin, 25 Mei 2009 (siang) berkesempatan hadir di acara peluncuran Indigo Fellowship 2009 yang digagas oleh TELKOM Group yang merupakan sebuah program yang dirancang bagi insan kreatif Indonesia dalam mengembangkan kewirausahaan dengan memanfaatkan teknologi digital. Program ini mengambil tema For Brighter Indonesian Digitalpreneurs.

Peserta yang dinilai memiliki ide bisnis terbaik dalam program Indigo Fellowship 2009 ini berhak mendapatkan apresiasi berupa :

  • Dukungan dana untuk inisiasi bisnis mencapai Rp 50 juta
  • Menikmati berbagai fasilitas dari Telkom’s Digital Creative Playground dengan nilai hingga Rp 100 juta
  • Mengikuti workshop atau seminar digitalpreneurship secara berkala
  • Bimbingan dari para pakar bisnis digital

Walaupun TELKOM mensyaratkan bahwa ide atau karya yang didaftarkan, dapat digunakan untuk keperluan publikasi, promosi, atau kegiatan TELKOM lainnya, prakarsa ini patut didukung dan semoga diikuti oleh pelaku – pelaku bisnis telekomunikasi lainnya. Potensi industri kreatif Indonesia sangatlah besar, talenta-talenta muda berbakat Indonesia bahkan banyak yang berprestasi di level Internasional. Salah satunya adalah Eko Ramaditya seorang penulis, musisi digital, dan pekerja kreatif yang melampaui kelemahan penglihatannya (penyandang tuna netra) dengan kreasi audio dan digital yang persistent.

Marilah kita majukan dan kembangkan industri kreatif Indonesia. Saya lebih percaya dan yakin kalau Indonesia memiliki kompetensi yang handal disektor ini dibandingkan industri manufaktur elektronik dan telekomunikasi yang jelas – jelas secara ekonomis akan kalah bersaing dengan negara-negara lain yang lebih maju industrinya seperti China, Korea dan Jepang. (WHy)

*** Bagi yang ingin mengikuti program Indigo Fellowship 2009, silahkan mengakses website dengan alamat http://www.plasaindigo.com untuk informasi lebih lanjut.

Posted in ICT World.


Tender BWA 2,3 GHz bukan Tender WiMAX !

Sebagaimana yang kita ketahui bersama saat ini Pemerintah sedang melaksanakan tender BWA di pita frekuensi 2,3 GHz sebesar 30 MHz, yang oleh beberapa media sering disebut sebagai tender WiMAX. Sekedar meluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman dikemudian hari karena BWA dan WiMAX adalah dua hal yang berbeda. Untuk lebih jelasnya BWA merupakan singkatan dari Broadband Wireless Access yang di-Indonesia-kan menjadi akses pita lebar nirkabel, diluar negeri istilah yang dipakai adalah Wireless Broadband (WiBB). Penggunaan istilah BWA ini lebih luas maknanya dibanding WiMAX, karena cakupan BWA terdiri dari berbagai teknologi broadband sepanjang memiliki kecepatan akses minimal 256 Kbps. Teknologi WiFi yang kita kenal hari ini, dan juga berbagai teknologi proprietary sepanjang memenuhi kriteria kecepatan akses minimal 256 Kbps dapat dimasukan ke dalam kategori teknologi BWA.

Sedangkan WiMAX yang merupakan singkatan dari Worldwide Interoperability for Microwave Access adalah bagian dari teknologi BWA yang dikembangkan dengan penekanan pada aspek interoperability, adanya Quality of Service (QoS) untuk memberikan jaminan pelayanan disisi pengguna dan cakupan coverage yang lebih luas dari WiFi. WiMAX diatur secara khusus oleh sebuah organisasi internasional yang bernama WiMAX Forum. Bahkan istilah WiMAX telah didaftarkan menjadi merek dagang (trademarks) dari WiMAX Forum sehingga tidak bisa seenaknya dan sembarangan orang menggunakan istilah WiMAX untuk keperluan bisnis. WiMAX Forum saat ini telah menetapkan 2 standar teknologi untuk WiMAX yaitu standar 802.16-2004 yang dikenal dengan istilah WiMAX 802.16d dan standar 802.16-2005 yang dikenal dengan WiMAX 802.16e

Kembali ke Tender BWA 2,3 GHz sebagaimana yang tertera di dalam dokumen tender, perangkat yang digunakan oleh pemenang tender harus mengacu kepada perangkat dengan spesifikasi yang diatur oleh Peraturan Direktur Jenderal Pos Dan Telekomunikasi Nomor: 94/DIRJEN/2008, 95 dan 96. Dari spesifikasi teknis yang ada di Peraturan Dirjen nampaknya spesifikasi yang dipakai mirip dengan standar WiMAX 802.16d namun terdapat beberapa modifikasi diantaranya masalah guard band yang menjadikan standar ini adalah standar BWA khusus dan unik Indonesia. Dan lagi kalaupun standar teknologi ini bisa dikatakan menggunakan standar 802.16d, WiMAX Forum sendiri tidak menetapkan standar WiMAX 802.16d di pita frekuensi 2,3 GHz.

Sebenarnya kenapa sich kita mesti ribut-ribut masalah spesifikasi dan standar perangkat? Penjelasannya adalah ini lebih kepada nilai ekonomis untuk kelayakan bisnis disisi penyelenggara dan jaminan ketersediaan perangkat bagi operator untuk kelangsungan dan jaminan pelayanan ke konsumen. Dengan standar khusus dan unik Indonesia, tidaklah banyak vendor penyedia perangkat yang membuat perangkat yang sesuai dengan standar ini. Saat ini saja hanya ada 2 perusahaan yang membuat perangkat tersebut dan dengan komitmen pembangunan jaringan yang di persyaratkan oleh Pemerintah bagi kepada pemenang tender tentunya ini sangat mengkhawatirkan. Belum lagi kalau bicara masalah kehandalan perangkat yang belum teruji dan jaminan purna jual.

Selain dari aspek kelayakan ekonomis dan teknis, dengan standar teknologi yang digunakan model bisnis yang dapat ditawarkan oleh pemenang tender saat ini hanyalah layanan tetap karena pilihan terminal yang tersedia hanya satu yaitu terminal fix outdoor (semacam antena yang dipasang diluar rumah). Kalaupun pemenang tender akan mengkombinasikannya dengan teknologi WiFi agar lebih portable, ini akan menambah biaya invetasi yang tidak sedikit. Nampaknya akan sulit bagi pemenang tender BWA 2,3 Ghz untuk dapat bersaing dengan industri sejenisnya. Dan tentunya bagi masyarakat masih harus bersabar menantikan hadirnya WiMAX di Indonesia yang dapat memberikan layanan yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau.

Posted in ICT World.


Tenaga Kerja Lokal di Industri Telekomunikasi Kita

Seiring dengan berlangsungnya tender spektrum BWA di pita 2,3 GHz yang dilaksanakan oleh Pemerintah saat ini, Industri Dalam Negeri (IDN) menjadi perhatian dan sorotan bersama karena adanya persyaratan untuk penggunaan perangkat produksi IDN. Semangat penggunaan produksi IDN ini selain dalam rangka mengurangi penggunaan devisa untuk belanja perangkat juga ditujukan untuk memajukan industri manufaktur telekomunikasi kita yang dianggap telah mati suri. Dengan mewajibkan penggunaan perangkat IDN diharapkan IDN tersebut akan tumbuh dan berkembang dan dengan sendirinya akan menciptakan lapangan pekerjaan. Penciptaan lapangan kerja memang menjadi agenda nasional Pemerintah, karenanya Pemerintah akan sangat mendukung upaya – upaya dalam rangka penciptaan lapangan kerja baru.

Namun yang perlu juga diperhatikan, industri manufaktur telekomunikasi adalah industri padat modal dan padat teknologi. Apakah kebijakan mengembangkan industri manufaktur telekomunikasi telah dikaji secara mendalam terkait dengan berapa besar jumlah tenaga kerja yang bisa diserap? Coba saja kita liat jumlah tenaga kerja lokal yang terlibat dalam pengembangan WiMAX versi Indonesia di dua perusahaan Hariff dan TRG. Katakan saat ini masing – masing di dua perusahaan tersebut mempekerjakan tidak lebih dari 50 orang, berarti saat ini praktis hanya 100 orang yang terlibat untuk pengembangan WiMAX versi Indonesia. Ini memang masih dalam tahap R&D, kalaupun akan dilakukan proses perakitan dan pabrikasi di Indonesia berapa banyak lagi tenaga kerja lokal yang dilibatkan? Nyatanya dengan pertimbangan cost, beberapa pekerjaan pabrikasi tetap dilakukan diluar negeri.

Disisi lain, mari kita lihat gemerlap pembangunan infrastruktur telekomunikasi oleh para operator selular kita. Besarnya belanja modal (CAPEX) yang dikeluhkan Pemerintah dalam berbagai forum dan kesempatan sebagian besar datangnya dari CAPEX para operator seluler kita. Pertanyaannya, apakah yang telah Pemerintah lakukan untuk mengembangkan IDN di sektor ini ? Walau terlambat, jika konsisten seharusnya Pemerintah tetap mengembangkan IDN untuk industri selular sebagaimana industri BWA. Kita seharusnya tidak berpuas diri dengan hadirnya berbagai produk handphone dengan brand lokal. Harusnya IDN kita bisa berbuat lebih untuk industri selular.

Kembali ke keterlibatan tenaga kerja lokal, yang memprihatinkan di industri selular saat ini adalah serangan vendor negeri tirai bambu baik di operator CDMA dan GSM yang ternyata selain membawa perangkat – perangkat yang “murah” ternyata juga diikuti dengan berdatangannya ratusan tenaga kerja asing. Jika tenaga kerja asing ini adalah tenaga ahli yang mendatangkan ilmu buat kita mungkin tidak akan menjadi masalah buat kita. Nyatanya menurut informasi dari rekan yang bekerja di vendor dari negeri tirai bambu tersebut, tenaga – tenaga asing yang datang bukanlah benar-benar tenaga ahli namun sebagian dari mereka adalah para “fresh graduate” dan ini tentunya menjadi permasalahan tersendiri buat kita. Kita ribut – ribut berbicara penciptaan lapangan kerja baru tapi kita malah membiarkan lapangan kerja kita diserobot oleh orang lain.

Apakah kita akan berdiam diri dengan kondisi dan keadaan seperti ini?

Posted in ICT World.


WiMAX Anak Bangsa VS Bakso Lapangan Tembak Senayan di Puspiptek Serpong

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) tanggal 2 Mei 2009 kemarin di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong dilaksanakan satu kegiatan kopi darat Bloggers dan Mail-lister yang bertajuk “When Bloggers and Maillisters Collide”. Acara silaturahmi Bloggers dan Mail-listers ini berjalan lancar, ramai, edukatif, menghibur dan menggairahkan, begitu menurut Pak Kusmayanto Kadiman (KK) yang menjadi tuan rumah dari acara ini.

Disediakan transportasi dari Kantor Ristek MH Thamrin – Puspiptek pulang pergi, hiburan berupa live band dan penyanyi-penyanyi yang juga merupakan peserta acara yang berdendang lepas dan ceria, jalan-jalan di Kebun Provinsi dipandu ahli tanaman tropis, penyanjian teh/kopi, makan pagi/siang/sore, sholat, pameran teknologi, pencerahan/demo WiMAX karya anak negeri, paparan dan diskusi seputar blogs dan mail-lists, digital campaign plus diskusi cerdas yang semuanya berkualitas prima.

Demo WiMAX Anak Bangsa dipandu oleh Onno W. Purbo yang dalam kesempatan ini mendemokan kemampuan perangkat WiMAX produksi Hariff dan TRG WiMAX yang berbasis kepada standar IEEE 802.16d di pita frekuensi 2,3 GHz. Onno menyatakan bahwa dengan demo WiMAX ini menunjukkan bahwa kita telah memasuki teknologi generasi ke empat atau yang lebih dikenal dengan istilah 4G. Kemampuan yang dipertunjukan adalah video conference, video multicast dan internet phone (VoIP). Semua demo berjalan dengan baik, namun sayangnya tidak dijelaskan lebih lanjut masalah kesiapan perangkat WIMAX ini untuk digunakan secara komersial oleh operator terkait dengan tender BWA di pita frekuensi 2,3 GHz yang sedang dilaksanakan oleh Dirjen Postel. Demo tentunya berbeda dengan kondisi dilapangan karena skenario dan trafik yang dibebankan telah diatur sedemikian rupa agar demo berjalan lancar. Kapasitas dan kehandalan perangkat masih menjadi tanda tanya besar dari para operator.

Kesederhanaan perangkat disisi konsumen juga menjadi permasalahan lain, ketika konsumen telah terbiasa dengan kemudahan layanan broadband internet menggunakan perangkat yang sederhana dan mudah untuk dipindah-pindah seperti USB dongle dan PCMCIA untuk layanan 3G saat ini, dengan WiMAX Anak Bangsa ini kita diminta kembali untuk menggunakan perangkat terminal outdoor (antenna) yang besar dan harus dipasang menetap di atap-atap rumah. Perlu pekerjaan ekstra keras bagi operator untuk menjual layanan dengan teknologi yang seperti ini agar konsumen dapat menerimanya.

Yang menarik adalah ketika Onno belum selesai menjelaskan lebih lanjut tentang WiMAX Anak Bangsa, sebagian peserta meninggalkan acara dan berduyun-duyun mengantri untuk mendapatkan Bakso Lapangan Tembok Senayan yang disediakan oleh Panitia. Nampaknya Bakso Lapangan Tembak Senayan bagi sebagian orang lebih menarik daripada WiMAX Anak Bangsa ……

Posted in ICT World.


Jajak Pendapat Terhadap Tender BWA 2,3 GHz

Berikut adalah hasil jajak pendapat dengan 47 responden yang dilakukan terhadap peserta WiMAX Indonesia Conference 2009 yang berlangsung di Hotel Sari Pan Pacific dan Gedung BPPT 2 pada tanggal 23-24 April 2009 yang lalu.

Continued…

Posted in ICT World.